Sabtu, 31 Juli 2010

Lippo Buat Rumah Sakit Umum yang Terjangkau

Jakarta, Rumah sakit grup Lippo yang selama ini lebih banyak menggarap pasien kelas menengah mendirikan Rumah Sakit Umum dan Pendidikan Siloam Hospitals Lippo Village. Rumah sakit ini bisa menerima pasien Askes.

Rumah Sakit Umum dan Pendidikan ini merupakan perluasan Siloam Hospitals Lippo Village yang berada di area sama dengan rumah sakit berstandar internasional itu. Rumah sakit murah ini berkomitmen memberikan pelayanan yang berkualitas dengan biaya terjangkau.

Peletakan batu pertama pembangunan Siloam Hospital Lippo Village Extension, Rumah Sakit Umum dan Pendidikan berstandar International dilakukan oleh Menteri kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih, pendiri Lippo Group Dr Mochtar Riady, Wakil Gubernur Banten, Masduki, Rektor Universitas Pelita Harapan (UPH) Prof.Dr Jonathan Parapak dan Chief Executive Officer (CEO) Siloam Hospital Group, Gershu Paul di Siloam Hospitals Lippo Village, Karawaci, Sabtu (31/7/2010).

Rumah Sakit Umum dan Pendidikan ini diharapkan bisa mulai beroperasi pada triwulan II-2011 dengan jumlah tempat tidur pada tahap pertama sebanyak 300 tempat tidur. Rumah sakit ini akan dilengkapi dengan teknologi MRI 3 Tesla, Cath Lab serta DSCT Scan.

Menkes mengaku sangat mendukung rumah sakit yang didirikan swasta dengan biaya yang terjangkau bagi masyarakat. Dia juga mengatakan rumah sakit swasta jangan hanya mementingkan bisnis saja.

"Rumah sakit itu pelayanan kesehatan bukan lahan bisnis. Harusnya rumah sakit merupakan lahan untuk mengeksplor kemanusiaan," kata dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Ph.D.

dr. Endang berpendapat bahwa rumah sakit harus mengutamakan keselamatan pasien, memiliki pelayanan yang komunikatif, memiliki teknologi yang memadai. Rumah sakit juga diharapkan bisa menjadi 'green hospital', yaitu rumah sakit ramah lingkungan yang peduli limbahnya terhadap lingkungan.

Mochtar Riady dalam sambutannya mengatakan dari 71 fakultas kedokteran hanya bisa menghasilkan sekitar 4.000 dokter baru tiap tahunnya. Ini merupakan rasio yang kurang memadai.

"Indonesia kira-kira kekurangan dokter sekitar 60.000 orang. Sementara 240 juta penduduk Indonesia hanya memiliki 1 rumah sakit kanker, 110 dokter ontologis, 100 neurosurger. Hal inilah yang membuat banyak pasien Indonesia yang berobat ke luar negeri," ungkap Dr. Mochtar Riady.

Rumah Sakit Umum dan Pendidikan ini juga akan menjadi tempat praktik mahasiswa kedokteran UPH untuk menerapkan ilmunya ataupun dokter asing yang menularkan ilmunya di Indonesia.




Ayo mana lagi ni yg mau bikin RS pendidikan??
beasiswa kedokteran banyak ga ya??
beasiswa itu ada ga menjaring di sekolah-sekolah hingga pelosok Indonesia??agar mereka membangun desa sehat untuk kampung mereka.. kan FK terkenal mahal,, hingga hanya orang "mampu" yg sanggup menyekolahkan anak2 mereka..
AYO BERLAKU ADIL LAH..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar