JAKARTA – Perseteruan antara Indonesia dan Malaysia kembali mencuat. Ketegagan negeri serumpun kali ini dipicu dari ditangkap dan disiksanya tiga petugas kelautan Indonesia oleh kepolisian Malaysia.
Kejadian ini mengingatkan kita akan sejarah. Dimana, pada tahun 1962-1966 Indonesia juga sempat terlibat cekcok dengan Negri Jiran. Kala itu, persoalan dipicu ulah Malaysia yang dahulu dikenal dengan Persekutuan Tanah Melayu ingin menggabungkan Brunei, Sabah, dan Serawak menjadi Federasi Malaysia.
Tindakan tersebut, sontak saja dikecam oleh Presiden Indonesia yang kala itu dijabat Soekarno. Bung Karno menilai, Malaysia adalah boneka Inggris, dan langkah tersebut akan mengganggu keamanan di Indonesia. Bung Karno memproklamirkan gerakan ”Ganyang Malaysia” melalui pidato bersejarah pada 12 April 1963. Berikut kutipan pidato Sang Proklamator Indonesia tersebut;
Kalau kita lapar itu biasa
Kalau kita malu itu juga biasa
Namun kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang ajar!
Kerahkan pasukan ke Kalimantan hajar cecunguk Malayan itu!
Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat itu.
Doakan aku, aku kan berangkat ke medan juang sebagai patriot Bangsa, sebagai martir Bangsa dan sebagai peluru Bangsa yang tak mau diinjak-injak harga dirinya.
Serukan serukan ke seluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu untuk melawan kehinaan ini kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat.
Yoo... ayoo... kita... Ganjang...
Ganjang... Malaysia...
Ganjang... Malaysia
Bulatkan tekad
Semangat kita badja
Peluru kita banjak
Njawa kita banjak
Bila perlu satoe-satoe!
Menyikapi pidato Bung Karno, Malaysia pun murka. Mereka mendemo Kedubes RI di Kualalumpur dan merobek-robek foto Soekarno. Bahkan, demonstran juga sempat membawa lambang burung garuda kepada Tunku Abdul Rahman dan meminta agar dia menginjaknya.
Namun, polemik tersebut mereda setelah posisi Soekarno digantikan Soeharto. Pada 28 Mei 1966, Indonesia dan Malaysia pun sepakat untuk berdamai, dan penandatanganan perdamaian dilakukan pada 11 Agustus.
Sumber: okezone-->http://news.okezone.com/read/2010/08/30/337/368109/inilah-pidato-bung-karno-untuk-malaysia
julfiza-ijul
Senin, 30 Agustus 2010
Minggu, 08 Agustus 2010
Bulan Ramadhon
Ramadhon +-3 hari lagi akan menghampiri umat islam di seluruh dunia.
Sudah semestinya kita menyambutnya dg penuh rasa syukur,bahagia,dan iman yg mantap..Bahagia bukan hanya karena sebulan lagi akan lebaran..ramadhan jg hanya diisi dg belanja untuk mempercantik diri dg pakaian,atau mempercantik rumah..Tapi lebih dari semua itu adalah mempercantik hati,iman sebagai bekal untuk kehidupan akhirat. Ramadhon bulan penuh berkah,penuh jadi jangan sampai disia-siakan..
Sudah semestinya kita menyambutnya dg penuh rasa syukur,bahagia,dan iman yg mantap..Bahagia bukan hanya karena sebulan lagi akan lebaran..ramadhan jg hanya diisi dg belanja untuk mempercantik diri dg pakaian,atau mempercantik rumah..Tapi lebih dari semua itu adalah mempercantik hati,iman sebagai bekal untuk kehidupan akhirat. Ramadhon bulan penuh berkah,penuh jadi jangan sampai disia-siakan..
Rabu, 04 Agustus 2010
Pendidikan Kita dari DR Rhenald Kasali
Lima belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat.
Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana.
Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah. Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. "Maaf Bapak dari mana?" "Dari Indonesia," jawab saya. Dia pun tersenyum.
Budaya Menghukum
Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.
"Saya mengerti," jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. "Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak-anaknya dididik di sini,"lanjutnya. "Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! " Dia pun melanjutkan argumentasinya.
"Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat," ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya. Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.
Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai "A", dari program master hingga doktor. Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.
Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti. Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan. Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut "menelan" mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.
Ketika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi. Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan.
Ada semacam balas dendam dan kecurigaan. Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak.
Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya.
"Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan," ujarnya dengan penuh kesungguhan. Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.
Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. "Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti." Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif.
Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan "gurunya salah". Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.
Melahirkan Kehebatan
Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya. Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas...; Kalau,...; Nanti,...; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.
Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh. Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh. Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.
Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.
(*) Ketua Program MM UI
Sumber: Milis Bisnis-Karir
caplok dari milis..sumbernya ada di atas...
Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana.
Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah. Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. "Maaf Bapak dari mana?" "Dari Indonesia," jawab saya. Dia pun tersenyum.
Budaya Menghukum
Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.
"Saya mengerti," jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. "Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak-anaknya dididik di sini,"lanjutnya. "Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! " Dia pun melanjutkan argumentasinya.
"Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat," ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya. Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.
Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai "A", dari program master hingga doktor. Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.
Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti. Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan. Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut "menelan" mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.
Ketika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi. Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan.
Ada semacam balas dendam dan kecurigaan. Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak.
Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya.
"Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan," ujarnya dengan penuh kesungguhan. Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.
Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. "Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti." Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif.
Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan "gurunya salah". Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.
Melahirkan Kehebatan
Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya. Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas...; Kalau,...; Nanti,...; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.
Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh. Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh. Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.
Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.
(*) Ketua Program MM UI
Sumber: Milis Bisnis-Karir
caplok dari milis..sumbernya ada di atas...
SANDAL JEPIT ISTRIKU
Selera makanku mendadak punah. Hanya ada rasa kesal dan jengkel yang memenuhi kepala ini. Duh... betapa tidak gemas, dalam keadaan lapar memuncak seperti ini makanan yang tersedia tak ada yang memuaskan lidah. Sayur sop ini rasanya manis bak kolak pisang, sedang perkedelnya asin nggak ketulungan. "Ummi... Ummi, kapan kau dapat memasak dengan benar...? Selalu saja, kalau tak keasinan...kemanisa n, kalau tak keaseman... ya kepedesan!" Ya, aku tak bisa menahan emosi untuk tak menggerutu."Sabar bi..., Rasulullah juga sabar terhadap masakan Aisyah dan Khodijah. Katanya mau kayak Rasul...? " ucap isteriku kalem. "Iya... tapi abi kan manusia biasa. Abi belum bisa sabar seperti Rasul. Abi tak tahan kalau makan terus menerus seperti ini...!" Jawabku dengan nada tinggi. Mendengar ucapanku yang bernada emosi, kulihat isteriku menundukkan kepala dalam-dalam. Kalau sudah begitu, aku yakin pasti air matanya sudah merebak.
***
Sepekan sudah aku ke luar kota. Dan tentu, ketika pulang benak ini penuh dengan jumput-jumput harapan untuk menemukan 'baiti jannati' di rumahku. Namun apa yang terjadi...? Ternyata kenyataan tak sesuai dengan apa yang kuimpikan. Sesampainya di rumah, kepalaku malah mumet tujuh keliling. Bayangkan saja, rumah kontrakanku tak ubahnya laksana kapal burak (pecah). Pakaian bersih yang belum disetrika menggunung di sana sini. Piring-piring kotor berpesta pora di dapur, dan cucian... ouw... berember-ember. Ditambah lagi aroma bau busuknya yang menyengat, karena berhari-hari direndam dengan detergen tapi tak juga dicuci.
Melihat keadaan seperti ini aku cuma bisa beristigfar sambil mengurut dada. "Ummi...ummi, bagaimana abi tak selalu kesal kalau keadaan terus menerus begini...?" ucapku sambil menggeleng-gelengka n kepala. "Ummi... isteri sholihat itu tak hanya pandai ngisi pengajian, tapi dia juga harus pandai dalam mengatur tetek bengek urusan rumah tangga. Harus bisa masak, nyetrika, nyuci, jahit baju, beresin rumah...?" Belum sempat kata-kataku habis sudah terdengar ledakan tangis isteriku yang kelihatan begitu pilu. "Ah...wanita gampang sekali untuk menangis...," batinku berkata dalam hati. "Sudah diam Mi, tak boleh cengeng. Katanya mau jadi isteri shalihat...? Isteri shalihat itu tidak cengeng," bujukku hati-hati setelah melihat air matanya menganak sungai dipipinya. "Gimana nggak nangis! Baru juga pulang sudah ngomel-ngomel terus. Rumah ini berantakan karena memang ummi tak bisa mengerjakan apa-apa. Jangankan untuk kerja untuk jalan saja susah. Ummi kan muntah-muntah terus, ini badan rasanya tak bertenaga sama sekali," ucap isteriku diselingi isak tangis. "Abi nggak ngerasain sih bagaimana maboknya orang yang hamil muda..." Ucap isteriku lagi, sementara air matanya kulihat tetap merebak.
***
Bi..., siang nanti antar Ummi ngaji ya...?" pinta isteriku. "Aduh, Mi... abi kan sibuk sekali hari ini. Berangkat sendiri saja ya?" ucapku. "Ya sudah, kalau abi sibuk, Ummi naik bis umum saja, mudah-mudahan nggak pingsan di jalan," jawab isteriku. "Lho, kok bilang gitu...?" selaku. "Iya, dalam kondisi muntah-muntah seperti ini kepala Ummi gampang pusing kalau mencium bau bensin. Apalagi ditambah berdesak-desakan dalam bus dengan suasana panas menyengat. Tapi mudah-mudahan sih nggak kenapa-kenapa," ucap isteriku lagi. "Ya sudah, kalau begitu naik bajaj saja," jawabku ringan. Pertemuan hari ini ternyata diundur pekan depan. Kesempatan waktu luang ini kugunakan untuk menjemput isteriku. Entah kenapa hati ini tiba-tiba saja menjadi rindu padanya. Motorku sudah sampai di tempat isteriku mengaji. Di depan pintu kulihat masih banyak sepatu berjajar, ini pertanda acara belum selesai.
Kuperhatikan sepatu yang berjumlah delapan pasang itu satu persatu. Ah, semuanya indah-indah dan kelihatan harganya begitu mahal. "Wanita, memang suka yang indah-indah, sampai bentuk sepatu pun lucu-lucu," aku membathin sendiri. Mataku tiba-tiba terantuk pandang pada sebuah sendal jepit yang diapit sepasang sepatu indah. Dug! Hati ini menjadi luruh. "Oh....bukankah ini sandal jepit isteriku?" tanya hatiku. Lalu segera kuambil sandal jepit kumal yang tertindih sepatu indah itu. Tes! Air mataku jatuh tanpa terasa. Perih nian rasanya hati ini, kenapa baru sekarang sadar bahwa aku tak pernah memperhatikan isteriku. Sampai-sampai kemana ia pergi harus bersandal jepit kumal. Sementara teman-temannnya bersepatu bagus. "Maafkan aku Maryam," pinta hatiku. "Krek...," suara pintu terdengar dibuka. Aku terlonjak, lantas menyelinap ke tembok samping. Kulihat dua ukhti berjalan melintas sambil menggendong bocah mungil yang berjilbab indah dan cerah, secerah warna baju dan jilbab umminya. Beberapa menit setelah kepergian dua ukhti itu, kembali melintas ukhti-ukhti yang lain. Namun, belum juga kutemukan Maryamku. Aku menghitung sudah delapan orang keluar dari rumah itu, tapi isteriku belum juga keluar.
Penantianku berakhir ketika sesosok tubuh berbaya gelap dan berjilbab hitam melintas. "Ini dia mujahidahku!" pekik hatiku. Ia beda dengan yang lain, ia begitu bersahaja. Kalau yang lain memakai baju berbunga cerah indah, ia hanya memakai baju warna gelap yang sudah lusuh pula warnanya. Diam-diam hatiku kembali dirayapi perasaan berdosa karena selama ini kurang memperhatikan isteri. Ya, aku baru sadar, bahwa semenjak menikah belum pernah membelikan sepotong baju pun untuknya. Aku terlalu sibuk memperhatikan kekurangan-kekurang an isteriku, padahal di balik semua itu begitu banyak kelebihanmu, wahai Maryamku.
Aku benar-benar menjadi malu pada Allah dan Rasul-Nya. Selama ini aku terlalu sibuk mengurus orang lain, sedang isteriku tak pernah kuurusi. Padahal Rasul telah berkata: "Yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya." Sedang aku..? Ah, kenapa pula aku lupa bahwa Allah menyuruh para suami agar menggauli isterinya dengan baik. Sedang aku...? terlalu sering ngomel dan menuntut isteri dengan sesuatu yang ia tak dapat melakukannya. Aku benar-benar merasa menjadi suami terdzalim!!! "Maryam...!" panggilku, ketika tubuh berbaya gelap itu melintas. Tubuh itu lantas berbalik ke arahku, pandangan matanya menunjukkan ketidakpercayaan atas kehadiranku di tempat ini. Namun, kemudian terlihat perlahan bibirnya mengembangkan senyum. Senyum bahagia. "Abi...!" bisiknya pelan dan girang. Sungguh, aku baru melihat isteriku segirang ini. "Ah, kenapa tidak dari dulu kulakukan menjemput isteri?" sesal hatiku.
***
Esoknya aku membeli sepasang sepatu untuk isteriku. Ketika tahu hal itu, senyum bahagia kembali mengembang dari bibirnya. "Alhamdulillah, jazakallahu. ..,"ucapnya dengan suara tulus. Ah, Maryam, lagi-lagi hatiku terenyuh melihat polahmu. Lagi-lagi sesal menyerbu hatiku. Kenapa baru sekarang aku bisa bersyukur memperoleh isteri zuhud dan 'iffah sepertimu? Kenapa baru sekarang pula kutahu betapa nikmatnya menyaksikan matamu yang berbinar-binar karena perhatianku. ..?
***
Sepekan sudah aku ke luar kota. Dan tentu, ketika pulang benak ini penuh dengan jumput-jumput harapan untuk menemukan 'baiti jannati' di rumahku. Namun apa yang terjadi...? Ternyata kenyataan tak sesuai dengan apa yang kuimpikan. Sesampainya di rumah, kepalaku malah mumet tujuh keliling. Bayangkan saja, rumah kontrakanku tak ubahnya laksana kapal burak (pecah). Pakaian bersih yang belum disetrika menggunung di sana sini. Piring-piring kotor berpesta pora di dapur, dan cucian... ouw... berember-ember. Ditambah lagi aroma bau busuknya yang menyengat, karena berhari-hari direndam dengan detergen tapi tak juga dicuci.
Melihat keadaan seperti ini aku cuma bisa beristigfar sambil mengurut dada. "Ummi...ummi, bagaimana abi tak selalu kesal kalau keadaan terus menerus begini...?" ucapku sambil menggeleng-gelengka n kepala. "Ummi... isteri sholihat itu tak hanya pandai ngisi pengajian, tapi dia juga harus pandai dalam mengatur tetek bengek urusan rumah tangga. Harus bisa masak, nyetrika, nyuci, jahit baju, beresin rumah...?" Belum sempat kata-kataku habis sudah terdengar ledakan tangis isteriku yang kelihatan begitu pilu. "Ah...wanita gampang sekali untuk menangis...," batinku berkata dalam hati. "Sudah diam Mi, tak boleh cengeng. Katanya mau jadi isteri shalihat...? Isteri shalihat itu tidak cengeng," bujukku hati-hati setelah melihat air matanya menganak sungai dipipinya. "Gimana nggak nangis! Baru juga pulang sudah ngomel-ngomel terus. Rumah ini berantakan karena memang ummi tak bisa mengerjakan apa-apa. Jangankan untuk kerja untuk jalan saja susah. Ummi kan muntah-muntah terus, ini badan rasanya tak bertenaga sama sekali," ucap isteriku diselingi isak tangis. "Abi nggak ngerasain sih bagaimana maboknya orang yang hamil muda..." Ucap isteriku lagi, sementara air matanya kulihat tetap merebak.
***
Bi..., siang nanti antar Ummi ngaji ya...?" pinta isteriku. "Aduh, Mi... abi kan sibuk sekali hari ini. Berangkat sendiri saja ya?" ucapku. "Ya sudah, kalau abi sibuk, Ummi naik bis umum saja, mudah-mudahan nggak pingsan di jalan," jawab isteriku. "Lho, kok bilang gitu...?" selaku. "Iya, dalam kondisi muntah-muntah seperti ini kepala Ummi gampang pusing kalau mencium bau bensin. Apalagi ditambah berdesak-desakan dalam bus dengan suasana panas menyengat. Tapi mudah-mudahan sih nggak kenapa-kenapa," ucap isteriku lagi. "Ya sudah, kalau begitu naik bajaj saja," jawabku ringan. Pertemuan hari ini ternyata diundur pekan depan. Kesempatan waktu luang ini kugunakan untuk menjemput isteriku. Entah kenapa hati ini tiba-tiba saja menjadi rindu padanya. Motorku sudah sampai di tempat isteriku mengaji. Di depan pintu kulihat masih banyak sepatu berjajar, ini pertanda acara belum selesai.
Kuperhatikan sepatu yang berjumlah delapan pasang itu satu persatu. Ah, semuanya indah-indah dan kelihatan harganya begitu mahal. "Wanita, memang suka yang indah-indah, sampai bentuk sepatu pun lucu-lucu," aku membathin sendiri. Mataku tiba-tiba terantuk pandang pada sebuah sendal jepit yang diapit sepasang sepatu indah. Dug! Hati ini menjadi luruh. "Oh....bukankah ini sandal jepit isteriku?" tanya hatiku. Lalu segera kuambil sandal jepit kumal yang tertindih sepatu indah itu. Tes! Air mataku jatuh tanpa terasa. Perih nian rasanya hati ini, kenapa baru sekarang sadar bahwa aku tak pernah memperhatikan isteriku. Sampai-sampai kemana ia pergi harus bersandal jepit kumal. Sementara teman-temannnya bersepatu bagus. "Maafkan aku Maryam," pinta hatiku. "Krek...," suara pintu terdengar dibuka. Aku terlonjak, lantas menyelinap ke tembok samping. Kulihat dua ukhti berjalan melintas sambil menggendong bocah mungil yang berjilbab indah dan cerah, secerah warna baju dan jilbab umminya. Beberapa menit setelah kepergian dua ukhti itu, kembali melintas ukhti-ukhti yang lain. Namun, belum juga kutemukan Maryamku. Aku menghitung sudah delapan orang keluar dari rumah itu, tapi isteriku belum juga keluar.
Penantianku berakhir ketika sesosok tubuh berbaya gelap dan berjilbab hitam melintas. "Ini dia mujahidahku!" pekik hatiku. Ia beda dengan yang lain, ia begitu bersahaja. Kalau yang lain memakai baju berbunga cerah indah, ia hanya memakai baju warna gelap yang sudah lusuh pula warnanya. Diam-diam hatiku kembali dirayapi perasaan berdosa karena selama ini kurang memperhatikan isteri. Ya, aku baru sadar, bahwa semenjak menikah belum pernah membelikan sepotong baju pun untuknya. Aku terlalu sibuk memperhatikan kekurangan-kekurang an isteriku, padahal di balik semua itu begitu banyak kelebihanmu, wahai Maryamku.
Aku benar-benar menjadi malu pada Allah dan Rasul-Nya. Selama ini aku terlalu sibuk mengurus orang lain, sedang isteriku tak pernah kuurusi. Padahal Rasul telah berkata: "Yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya." Sedang aku..? Ah, kenapa pula aku lupa bahwa Allah menyuruh para suami agar menggauli isterinya dengan baik. Sedang aku...? terlalu sering ngomel dan menuntut isteri dengan sesuatu yang ia tak dapat melakukannya. Aku benar-benar merasa menjadi suami terdzalim!!! "Maryam...!" panggilku, ketika tubuh berbaya gelap itu melintas. Tubuh itu lantas berbalik ke arahku, pandangan matanya menunjukkan ketidakpercayaan atas kehadiranku di tempat ini. Namun, kemudian terlihat perlahan bibirnya mengembangkan senyum. Senyum bahagia. "Abi...!" bisiknya pelan dan girang. Sungguh, aku baru melihat isteriku segirang ini. "Ah, kenapa tidak dari dulu kulakukan menjemput isteri?" sesal hatiku.
***
Esoknya aku membeli sepasang sepatu untuk isteriku. Ketika tahu hal itu, senyum bahagia kembali mengembang dari bibirnya. "Alhamdulillah, jazakallahu. ..,"ucapnya dengan suara tulus. Ah, Maryam, lagi-lagi hatiku terenyuh melihat polahmu. Lagi-lagi sesal menyerbu hatiku. Kenapa baru sekarang aku bisa bersyukur memperoleh isteri zuhud dan 'iffah sepertimu? Kenapa baru sekarang pula kutahu betapa nikmatnya menyaksikan matamu yang berbinar-binar karena perhatianku. ..?
Semoga berguna bagi kita semua....amin ya rabbal alamien
Wassalam
caplok dari milis..
Minggu, 01 Agustus 2010
Operator Telekomunikasi Untuk Internet
Bismillaha...
Internet di Indonesia sedang marak, terlebih saat Facebook menjadi tren masyarakat, sekarang trennya ke twitter. Keadaan ini menjadi ladang cari keuntungan bagi semua operator telekomunikasi untuk menawarkan tarif yang cocok bagi pengguna FB/Twitter(padahal internet tidak hanya untuk itu). Mulai dari operator merah, kuning, biru, orange, banyak lagi baik GSM maupun CDMA.
Perang tarif yang terjadi antar operator ini ternyata membuat beberapa masyarakat berpindah-pindah operator karena ada banyak keuntungan yang didapat, termasuk harga yang bersaing, dan sebagainya(banyak sekali). Masalah yang terjadi sekarang adalah ketidaksiapan operator saat membludaknya pengguna(trafik padat) sehingga koneksi menjadi lemot(sering Request Time Out). Sehingga, seakan-akan operator hanya mencari untung tanpa memperhatikan kepuasan pelanggan. (padahal DT/drive test selalul dilakukan)..
Masyarakat sekarang terbuai dengan kecepatan yang ditawarkan oleh setiap operator. Ada 2G, 3G, 3.5G, dan sekarang akan ke 4G(Long Term Evolution/sekarang TA ane.hohohoo). Perlu diingat kecepatan yang katanya/teorinya hingga Megabits per second itu akan bisa dicapai bila trafiknya dapat ditangani. Bila trafiknya padat, maka koneksi akan lambat jadinya jadi istilahnya bandwidth sharing, hal lain yang perlu diingat adalah koneksi yang ditawarkan oleh operator telekomunikasi di Indonesia ini adalah koneksi wireless(bahasa kerennya).
pesan:hati-hati dalam memilih operator untuk internet anda, jangan mudah tergiur hanya karena operator besar, posisi juga menentukan kualitas penerimaan sinyal HP/modem anda.
Untuk penjelasan mengenai 2G, 3G/3.5G, dan 4G akan dibahas selanjutnya.
Smile dengan koneksi 3(orange)...
Internet di Indonesia sedang marak, terlebih saat Facebook menjadi tren masyarakat, sekarang trennya ke twitter. Keadaan ini menjadi ladang cari keuntungan bagi semua operator telekomunikasi untuk menawarkan tarif yang cocok bagi pengguna FB/Twitter(padahal internet tidak hanya untuk itu). Mulai dari operator merah, kuning, biru, orange, banyak lagi baik GSM maupun CDMA.
Perang tarif yang terjadi antar operator ini ternyata membuat beberapa masyarakat berpindah-pindah operator karena ada banyak keuntungan yang didapat, termasuk harga yang bersaing, dan sebagainya(banyak sekali). Masalah yang terjadi sekarang adalah ketidaksiapan operator saat membludaknya pengguna(trafik padat) sehingga koneksi menjadi lemot(sering Request Time Out). Sehingga, seakan-akan operator hanya mencari untung tanpa memperhatikan kepuasan pelanggan. (padahal DT/drive test selalul dilakukan)..
Masyarakat sekarang terbuai dengan kecepatan yang ditawarkan oleh setiap operator. Ada 2G, 3G, 3.5G, dan sekarang akan ke 4G(Long Term Evolution/sekarang TA ane.hohohoo). Perlu diingat kecepatan yang katanya/teorinya hingga Megabits per second itu akan bisa dicapai bila trafiknya dapat ditangani. Bila trafiknya padat, maka koneksi akan lambat jadinya jadi istilahnya bandwidth sharing, hal lain yang perlu diingat adalah koneksi yang ditawarkan oleh operator telekomunikasi di Indonesia ini adalah koneksi wireless(bahasa kerennya).
pesan:hati-hati dalam memilih operator untuk internet anda, jangan mudah tergiur hanya karena operator besar, posisi juga menentukan kualitas penerimaan sinyal HP/modem anda.
Untuk penjelasan mengenai 2G, 3G/3.5G, dan 4G akan dibahas selanjutnya.
Smile dengan koneksi 3(orange)...
Hari Pertama di Bulan Agustus
Bismillah..
Alhamdulillah,,puji syukur kepada Allah,, karena saat ini masih bisa merasakan bulan agustus di tahun 2010.. Dan kebahagiaan ini akan semakin lengkap bila datangnya Romadhon dalam keadaan sehat..amiin..
Hari ini,, banyak hal yang dapat dipetik dengan berbincang-bincang dengan teman.. entah dari mana,, kite bicarakan tentang idealisme.. Kata dia (Teman ngobrol),, idealisme itu penting, tetapi jangan membuat kita menjadi egois, ada saatnya idealisme itu dibutuhkan. Selain idealisme, ada hal lain yang kita bicarakan walo singkat yaitu hobi/bakat atau enaknya kesukaan kita. Pasti anda bertanya, apa bidang yang sedang dijalani ini memang bidang kita???(pertanyaan besar untuk saya). Nah, ini bikin saya jadi ingin mencoba dari sekarang mencari apa yang sebenarnya saya sukai, dan untuk dijadikan pekerjaan (berharap tidak ada kerja sampingan,krn semua pekerjaan itu harus dianggap sama).
No excuse..
Alhamdulillah,,puji syukur kepada Allah,, karena saat ini masih bisa merasakan bulan agustus di tahun 2010.. Dan kebahagiaan ini akan semakin lengkap bila datangnya Romadhon dalam keadaan sehat..amiin..
Hari ini,, banyak hal yang dapat dipetik dengan berbincang-bincang dengan teman.. entah dari mana,, kite bicarakan tentang idealisme.. Kata dia (Teman ngobrol),, idealisme itu penting, tetapi jangan membuat kita menjadi egois, ada saatnya idealisme itu dibutuhkan. Selain idealisme, ada hal lain yang kita bicarakan walo singkat yaitu hobi/bakat atau enaknya kesukaan kita. Pasti anda bertanya, apa bidang yang sedang dijalani ini memang bidang kita???(pertanyaan besar untuk saya). Nah, ini bikin saya jadi ingin mencoba dari sekarang mencari apa yang sebenarnya saya sukai, dan untuk dijadikan pekerjaan (berharap tidak ada kerja sampingan,krn semua pekerjaan itu harus dianggap sama).
No excuse..
Sabtu, 31 Juli 2010
Lippo Buat Rumah Sakit Umum yang Terjangkau
Jakarta, Rumah sakit grup Lippo yang selama ini lebih banyak menggarap pasien kelas menengah mendirikan Rumah Sakit Umum dan Pendidikan Siloam Hospitals Lippo Village. Rumah sakit ini bisa menerima pasien Askes.
Rumah Sakit Umum dan Pendidikan ini merupakan perluasan Siloam Hospitals Lippo Village yang berada di area sama dengan rumah sakit berstandar internasional itu. Rumah sakit murah ini berkomitmen memberikan pelayanan yang berkualitas dengan biaya terjangkau.
Peletakan batu pertama pembangunan Siloam Hospital Lippo Village Extension, Rumah Sakit Umum dan Pendidikan berstandar International dilakukan oleh Menteri kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih, pendiri Lippo Group Dr Mochtar Riady, Wakil Gubernur Banten, Masduki, Rektor Universitas Pelita Harapan (UPH) Prof.Dr Jonathan Parapak dan Chief Executive Officer (CEO) Siloam Hospital Group, Gershu Paul di Siloam Hospitals Lippo Village, Karawaci, Sabtu (31/7/2010).
Rumah Sakit Umum dan Pendidikan ini diharapkan bisa mulai beroperasi pada triwulan II-2011 dengan jumlah tempat tidur pada tahap pertama sebanyak 300 tempat tidur. Rumah sakit ini akan dilengkapi dengan teknologi MRI 3 Tesla, Cath Lab serta DSCT Scan.
Menkes mengaku sangat mendukung rumah sakit yang didirikan swasta dengan biaya yang terjangkau bagi masyarakat. Dia juga mengatakan rumah sakit swasta jangan hanya mementingkan bisnis saja.
"Rumah sakit itu pelayanan kesehatan bukan lahan bisnis. Harusnya rumah sakit merupakan lahan untuk mengeksplor kemanusiaan," kata dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Ph.D.
dr. Endang berpendapat bahwa rumah sakit harus mengutamakan keselamatan pasien, memiliki pelayanan yang komunikatif, memiliki teknologi yang memadai. Rumah sakit juga diharapkan bisa menjadi 'green hospital', yaitu rumah sakit ramah lingkungan yang peduli limbahnya terhadap lingkungan.
Mochtar Riady dalam sambutannya mengatakan dari 71 fakultas kedokteran hanya bisa menghasilkan sekitar 4.000 dokter baru tiap tahunnya. Ini merupakan rasio yang kurang memadai.
"Indonesia kira-kira kekurangan dokter sekitar 60.000 orang. Sementara 240 juta penduduk Indonesia hanya memiliki 1 rumah sakit kanker, 110 dokter ontologis, 100 neurosurger. Hal inilah yang membuat banyak pasien Indonesia yang berobat ke luar negeri," ungkap Dr. Mochtar Riady.
Rumah Sakit Umum dan Pendidikan ini juga akan menjadi tempat praktik mahasiswa kedokteran UPH untuk menerapkan ilmunya ataupun dokter asing yang menularkan ilmunya di Indonesia.
Ayo mana lagi ni yg mau bikin RS pendidikan??
beasiswa kedokteran banyak ga ya??
beasiswa itu ada ga menjaring di sekolah-sekolah hingga pelosok Indonesia??agar mereka membangun desa sehat untuk kampung mereka.. kan FK terkenal mahal,, hingga hanya orang "mampu" yg sanggup menyekolahkan anak2 mereka..
AYO BERLAKU ADIL LAH..
Rumah Sakit Umum dan Pendidikan ini merupakan perluasan Siloam Hospitals Lippo Village yang berada di area sama dengan rumah sakit berstandar internasional itu. Rumah sakit murah ini berkomitmen memberikan pelayanan yang berkualitas dengan biaya terjangkau.
Peletakan batu pertama pembangunan Siloam Hospital Lippo Village Extension, Rumah Sakit Umum dan Pendidikan berstandar International dilakukan oleh Menteri kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih, pendiri Lippo Group Dr Mochtar Riady, Wakil Gubernur Banten, Masduki, Rektor Universitas Pelita Harapan (UPH) Prof.Dr Jonathan Parapak dan Chief Executive Officer (CEO) Siloam Hospital Group, Gershu Paul di Siloam Hospitals Lippo Village, Karawaci, Sabtu (31/7/2010).
Rumah Sakit Umum dan Pendidikan ini diharapkan bisa mulai beroperasi pada triwulan II-2011 dengan jumlah tempat tidur pada tahap pertama sebanyak 300 tempat tidur. Rumah sakit ini akan dilengkapi dengan teknologi MRI 3 Tesla, Cath Lab serta DSCT Scan.
Menkes mengaku sangat mendukung rumah sakit yang didirikan swasta dengan biaya yang terjangkau bagi masyarakat. Dia juga mengatakan rumah sakit swasta jangan hanya mementingkan bisnis saja.
"Rumah sakit itu pelayanan kesehatan bukan lahan bisnis. Harusnya rumah sakit merupakan lahan untuk mengeksplor kemanusiaan," kata dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Ph.D.
dr. Endang berpendapat bahwa rumah sakit harus mengutamakan keselamatan pasien, memiliki pelayanan yang komunikatif, memiliki teknologi yang memadai. Rumah sakit juga diharapkan bisa menjadi 'green hospital', yaitu rumah sakit ramah lingkungan yang peduli limbahnya terhadap lingkungan.
Mochtar Riady dalam sambutannya mengatakan dari 71 fakultas kedokteran hanya bisa menghasilkan sekitar 4.000 dokter baru tiap tahunnya. Ini merupakan rasio yang kurang memadai.
"Indonesia kira-kira kekurangan dokter sekitar 60.000 orang. Sementara 240 juta penduduk Indonesia hanya memiliki 1 rumah sakit kanker, 110 dokter ontologis, 100 neurosurger. Hal inilah yang membuat banyak pasien Indonesia yang berobat ke luar negeri," ungkap Dr. Mochtar Riady.
Rumah Sakit Umum dan Pendidikan ini juga akan menjadi tempat praktik mahasiswa kedokteran UPH untuk menerapkan ilmunya ataupun dokter asing yang menularkan ilmunya di Indonesia.
Ayo mana lagi ni yg mau bikin RS pendidikan??
beasiswa kedokteran banyak ga ya??
beasiswa itu ada ga menjaring di sekolah-sekolah hingga pelosok Indonesia??agar mereka membangun desa sehat untuk kampung mereka.. kan FK terkenal mahal,, hingga hanya orang "mampu" yg sanggup menyekolahkan anak2 mereka..
AYO BERLAKU ADIL LAH..
Langganan:
Postingan (Atom)